Apakah PPG Akan Dihapus 2026 – pertanyaan ini mungkin sudah berkali-kali berputar di kepala Anda, apalagi jika Anda adalah guru honorer yang sedang menunggu kesempatan ikut PPG untuk mengejar sertifikat pendidik dan lolos seleksi PPPK. Di tengah kabar penerimaan PPPK yang makin ketat, isu bahwa PPG bagi Guru Tertentu akan dihentikan pada 2026 jelas membuat cemas: “Kalau PPG dihapus, bagaimana nasib saya? Apakah saya masih punya peluang sertifikasi? Apakah perjuangan saya selama ini sia-sia?”
Kabar ini makin membingungkan karena beredar video di media sosial yang seolah meyakinkan, ditambah artikel-artikel yang judulnya bombastis. Namun, di sisi lain, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sudah mengeluarkan klarifikasi resmi bahwa isu tersebut tidak benar. Di sinilah pentingnya Anda sebagai pejuang PPG dan PPPK untuk memahami fakta yang sebenarnya, supaya tidak mudah goyah dan bisa tetap fokus belajar, mengajar, dan menata strategi karier ke depan.
Pada artikel ini, kita akan membahas secara runtut: dari mana asal isu apakah ppg akan dihapus 2026, apa kata resmi Kemendikdasmen, bagaimana posisi PPG dalam jabatan (kini disebut PPG bagi Guru Tertentu) dan PPG Prajabatan, sampai bagaimana Anda bisa mengatur waktu antara mengajar dan belajar agar tetap siap ketika seleksi PPG dan PPPK dibuka.
Apakah PPG Akan Dihapus 2026? Bedah Isu, Bukan Ikut Panik

Mari mulai dari pertanyaan utamanya: apakah ppg akan dihapus 2026?
Isu ini muncul dari potongan video di media sosial, terutama Instagram, yang menampilkan seorang narasumber mengklaim bahwa mulai 2026 hanya PPG bagi calon guru (prajabatan) yang akan dibuka, sementara PPG bagi Guru Tertentu (dulu dikenal sebagai PPG Dalam Jabatan) akan dihentikan. Potongan video ini kemudian menyebar cepat, dikomentari, dibagikan, dan akhirnya menimbulkan kepanikan di kalangan guru honorer dan guru non-PNS yang belum tersertifikasi.
Jika Anda termasuk yang sempat percaya, itu wajar. Narasi di video tersebut terdengar meyakinkan, dan situasi seleksi PPPK yang makin kompetitif membuat kita cenderung sensitif terhadap kabar apa pun yang menyangkut PPG dan sertifikasi. Namun, di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: siapa sumbernya? apakah ada pernyataan resmi pemerintah?
Kemendikdasmen melalui pejabat resminya, termasuk Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah (GTKPG) Nunuk Suryani, sudah menegaskan bahwa isu apakah ppg akan dihapus 2026 adalah tidak benar. Artinya, program PPG bagi Guru Tertentu tidak dihentikan pada 2026, dan pemerintah tetap berkomitmen menjalankan program ini sampai guru-guru yang menjadi sasaran memperoleh sertifikat pendidik.
Di sisi lain, memang ada artikel dari salah satu media yang menyebut bahwa seleksi PPG bagi guru tertentu akan dihapus mulai 2026 dan lulusan pendidikan bisa langsung menjadi guru profesional. Namun, informasi ini bertentangan dengan pernyataan resmi Kemendikdasmen yang dikutip oleh media besar dan kredibel. Dalam konteks kebijakan pendidikan nasional, pernyataan resmi kementerian tentu memiliki bobot yang jauh lebih kuat dibanding opini atau interpretasi pihak lain.
Jadi, jika Anda masih bertanya-tanya apakah ppg akan dihapus 2026, jawaban berdasarkan klarifikasi resmi adalah: tidak, PPG bagi Guru Tertentu tidak dihapus pada 2026. Program ini tetap berjalan, seleksi tetap dibuka, dan kesempatan Anda untuk meraih sertifikat pendidik masih ada.
Klarifikasi Resmi Kemendikdasmen: PPG Guru Tertentu Tetap Berjalan

Untuk menenangkan hati Anda, mari kita bahas lebih rinci apa saja poin penting dari klarifikasi resmi Kemendikdasmen terkait isu apakah ppg akan dihapus 2026 ini.
Pada 2025-12-23T00:00:00.000+07:00, Dirjen GTKPG Nunuk Suryani, dalam sebuah kesempatan usai acara Peluncuran Gerakan Numerasi Nasional di SDN Meruya Selatan 04 Pagi, Jakarta Barat, menegaskan bahwa isu penghentian PPG bagi Guru Tertentu pada 2026 adalah tidak benar. Pernyataan ini dikutip oleh media nasional yang kredibel dan menjadi rujukan utama untuk menjawab keresahan para guru.
Beberapa poin penting yang perlu Anda garis bawahi:
- PPG bagi Guru Tertentu tidak dihentikan pada 2026
Nunuk Suryani menyatakan dengan jelas bahwa kabar tersebut tidak benar. Artinya, jika Anda adalah guru honorer, guru non-PNS, atau guru yang masuk kategori sasaran PPG bagi Guru Tertentu, Anda masih memiliki kesempatan untuk mengikuti PPG setelah 2025, bukan hanya sampai 2026. - Program PPG tetap dibuka setiap tahun
Kemendikdasmen menegaskan bahwa program PPG bagi Guru Tertentu akan terus dibuka setiap tahun. Bahkan, pada 2025 saja, masih ada seleksi administrasi periode kedua untuk mengakomodasi guru-guru yang sebelumnya terkendala. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak sedang menutup pintu, justru berusaha memperluas akses agar semakin banyak guru bisa tersertifikasi. - PPG akan terus berjalan hingga semua guru sasaran tersertifikasi
Ini adalah poin yang sangat penting untuk menjawab kekhawatiran apakah ppg akan dihapus 2026. Pemerintah menyatakan bahwa PPG bagi Guru Tertentu akan terus dilaksanakan sampai guru-guru yang menjadi sasaran program ini memperoleh sertifikat pendidik. Dengan kata lain, ada komitmen jangka panjang, bukan kebijakan yang tiba-tiba diputus di tengah jalan. - Narasumber di video hoaks tidak dikenal Kemendikdasmen
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikdasmen menyatakan bahwa mereka tidak mengenal narasumber yang muncul di video yang menyebarkan isu apakah ppg akan dihapus 2026. Ini semakin menguatkan bahwa informasi tersebut bukan berasal dari sumber resmi, melainkan opini pribadi yang kemudian disalahpahami atau bahkan sengaja dibesar-besarkan. - Hoaks serupa bukan pertama kali muncul
Menariknya, isu tentang PPG Dalam Jabatan (kini PPG bagi Guru Tertentu) akan dihentikan bukan baru kali ini muncul. Setiap beberapa tahun, selalu ada kabar serupa yang beredar dan menimbulkan keresahan. Namun, sejauh ini, pemerintah tetap konsisten menjalankan program PPG sebagai bagian dari upaya peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.
Dengan memahami poin-poin di atas, Anda bisa lebih tenang menjawab sendiri pertanyaan apakah ppg akan dihapus 2026. Alih-alih larut dalam kecemasan, Anda bisa mengalihkan energi untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi PPG dan PPPK yang memang membutuhkan fokus dan strategi.
PPG Guru Tertentu vs PPG Prajabatan: Bukan Salah Satu Dihapus, Tapi Dua Jalur Berbeda
Setelah tahu bahwa isu apakah ppg akan dihapus 2026 adalah hoaks, mungkin muncul pertanyaan lanjutan: “Kalau begitu, apa bedanya PPG bagi Guru Tertentu dengan PPG Prajabatan? Kenapa kok seolah-olah hanya PPG Prajabatan yang akan dibuka?”
Di sinilah sering terjadi salah paham. Padahal, kedua jenis PPG ini punya sasaran dan fungsi yang berbeda, dan keduanya sama-sama penting dalam ekosistem pendidikan Indonesia.
1. PPG bagi Guru Tertentu (dulu PPG Dalam Jabatan)
Ini adalah jalur PPG untuk guru yang sudah mengajar, baik guru honorer, guru non-PNS, maupun guru yang telah lama mengabdi tetapi belum memiliki sertifikat pendidik. Program ini dirancang untuk:
- Mengakui pengalaman mengajar yang sudah dimiliki.
- Meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional.
- Memberikan sertifikat pendidik sebagai syarat tunjangan profesi dan pengakuan sebagai guru profesional.
Dalam konteks seleksi PPPK, sertifikat pendidik dari PPG bagi Guru Tertentu menjadi salah satu nilai plus yang sangat signifikan, baik dalam penilaian administrasi maupun pemetaan kompetensi.
2. PPG Prajabatan
Sementara itu, PPG Prajabatan adalah jalur PPG untuk calon guru yang belum mengajar secara tetap. Biasanya, ini menyasar lulusan S1 kependidikan maupun nonkependidikan yang ingin menjadi guru profesional. Tujuannya adalah:
- Menyiapkan calon guru yang siap masuk ke sekolah dengan kompetensi yang sesuai standar.
- Menyaring dan membina guru sejak awal sebelum mereka mengajar secara penuh.
Nah, isu apakah ppg akan dihapus 2026 sering kali muncul karena ada narasi yang menyederhanakan situasi: seolah-olah pemerintah hanya akan fokus pada PPG Prajabatan dan mengabaikan PPG bagi Guru Tertentu. Padahal, berdasarkan klarifikasi resmi, PPG bagi Guru Tertentu tetap berjalan, sementara PPG Prajabatan juga dikembangkan sebagai jalur awal bagi generasi guru baru.
Artinya, bukan salah satu dihapus, melainkan dua jalur yang berjalan berdampingan: satu untuk guru yang sudah mengabdi, satu lagi untuk calon guru yang baru akan masuk dunia pendidikan.
Mengapa Isu “PPG Dihapus 2026” Mudah Bikin Cemas Guru Honorer?
Sekarang, mari kita jujur sejenak. Mengapa isu apakah ppg akan dihapus 2026 terasa begitu menakutkan, terutama bagi guru honorer?
Karena di balik kabar itu, ada realitas yang Anda rasakan setiap hari:
- Gaji honorer yang sering kali jauh dari kata layak.
- Status kerja yang tidak seaman ASN atau PPPK.
- Beban kerja yang sama beratnya dengan guru PNS, tapi dengan penghargaan yang berbeda.
- Tuntutan untuk terus belajar, ikut pelatihan, dan mempersiapkan diri untuk seleksi PPG dan PPPK, di tengah jadwal mengajar yang padat.
Sertifikat pendidik melalui PPG bukan hanya selembar kertas. Bagi banyak guru honorer, itu adalah:
- Kunci untuk mendapatkan tunjangan profesi.
- Modal penting untuk bersaing di seleksi PPPK.
- Simbol pengakuan bahwa perjuangan mengajar selama ini diakui negara.
Jadi, ketika muncul isu apakah ppg akan dihapus 2026, wajar jika Anda merasa seolah-olah pintu masa depan sedang ditutup. Namun, di sinilah pentingnya membedakan antara rasa takut dan fakta kebijakan.
Faktanya, pemerintah melalui Kemendikdasmen sudah menegaskan bahwa PPG bagi Guru Tertentu tetap berjalan. Artinya, pintu itu belum ditutup. Justru sekaranglah saatnya Anda memanfaatkan waktu yang ada untuk:
- Memperkuat kompetensi pedagogik dan profesional.
- Mencari informasi resmi tentang jadwal dan mekanisme seleksi PPG.
- Menata strategi belajar yang realistis di tengah kesibukan mengajar.
Dan di titik ini, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar apakah ppg akan dihapus 2026, melainkan: apa yang bisa saya lakukan mulai sekarang agar siap ketika kesempatan PPG datang?
Manajemen Waktu Guru Honorer: Mengajar, Belajar PPG, dan Menjaga Kesehatan Mental
Sebagai guru honorer, Anda sering berada di posisi serba tanggung: pagi mengajar, siang mengurus administrasi, sore mungkin mengajar tambahan atau les, malam baru sempat belajar untuk PPG atau PPPK. Di tengah ritme seperti ini, wajar jika isu apakah ppg akan dihapus 2026 terasa seperti beban tambahan yang menguras energi mental.
Namun, justru karena program PPG bagi Guru Tertentu tidak dihapus, Anda perlu menata ulang cara mengelola waktu dan energi, supaya:
- Tidak kelelahan sebelum sampai ke garis start (seleksi PPG).
- Tidak kehilangan motivasi di tengah jalan.
- Tetap bisa hadir secara utuh untuk murid-murid di kelas.
Berikut beberapa pendekatan manajemen waktu dan energi yang bisa Anda terapkan secara realistis:
1. Bedakan antara “waktu belajar intensif” dan “waktu belajar ringan”
Anda tidak harus selalu belajar 3–4 jam penuh setiap hari. Bagi guru honorer, itu sering kali tidak realistis. Cobalah membagi:
- Belajar intensif (1–2 jam): misalnya 3 kali seminggu, fokus pada materi berat seperti pedagogik, profesional, atau latihan soal PPG.
- Belajar ringan (15–30 menit): setiap hari, misalnya membaca ringkasan materi, menonton video singkat, atau mengulas catatan.
Dengan pola ini, Anda tetap bergerak maju tanpa merasa terbebani berlebihan. Ingat, persiapan PPG itu maraton, bukan sprint.
2. Gunakan kelas yang Anda ajar sebagai “laboratorium praktik”
Salah satu kelebihan guru honorer yang sedang mempersiapkan PPG adalah: Anda sudah punya kelas nyata. Jadi, ketika belajar tentang:
- asesmen diagnostik,
- pembelajaran berdiferensiasi,
- atau projek Profil Pelajar Pancasila,
Anda bisa langsung mencoba menerapkannya, meski dalam skala kecil. Catat apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Ini akan sangat membantu ketika nanti Anda menghadapi soal studi kasus atau diminta menyusun RPP/Modul Ajar saat PPG.
Dengan cara ini, persiapan PPG tidak terasa sebagai beban tambahan, tetapi sebagai bagian dari peningkatan kualitas mengajar sehari-hari.
3. Tetapkan “batas wajar” agar tidak burnout
Isu apakah ppg akan dihapus 2026 kadang membuat kita panik dan ingin belajar sekeras mungkin dalam waktu singkat. Namun, belajar sambil mengajar tanpa istirahat justru berisiko membuat Anda kelelahan dan kehilangan fokus.
Cobalah menetapkan batas wajar:
- Minimal satu hari dalam seminggu untuk tidak belajar materi PPG sama sekali, dan gunakan untuk istirahat, keluarga, atau aktivitas yang menyenangkan.
- Batasi jam belajar malam agar tidak mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur justru membuat daya ingat dan konsentrasi menurun.
Ingat, PPG adalah perjalanan panjang. Anda butuh stamina, bukan hanya semangat sesaat.
4. Bangun “lingkaran dukungan” dengan sesama guru pejuang PPG
Perjuangan ini akan terasa jauh lebih ringan jika Anda tidak menjalaninya sendirian. Cobalah:
- Membentuk kelompok belajar kecil dengan guru-guru lain di sekolah atau daerah Anda.
- Saling berbagi ringkasan materi, soal latihan, atau tips mengajar.
- Saling mengingatkan untuk tetap berpegang pada informasi resmi, bukan isu menyesatkan seperti apakah ppg akan dihapus 2026.
Jika Anda mengikuti bimbingan belajar online PPG, manfaatkan juga komunitas dan grup diskusinya. Di sana, Anda bisa mendapatkan dukungan moral sekaligus materi yang lebih terstruktur. Di titik ini, memilih bimbel yang menyediakan jadwal fleksibel, rekaman kelas, dan latihan soal terarah bisa sangat membantu menghemat waktu dan energi Anda.
Strategi Belajar PPG di Tengah Isu “PPG Dihapus”: Fokus pada Hal yang Bisa Anda Kendalikan
Sekarang, setelah jelas bahwa isu apakah ppg akan dihapus 2026 adalah hoaks, langkah berikutnya adalah mengalihkan fokus dari kecemasan atas kebijakan ke persiapan diri yang konkret.
Anda tidak bisa mengendalikan kapan tepatnya kuota PPG dibuka, berapa banyak formasi PPPK yang tersedia, atau bagaimana dinamika kebijakan pendidikan ke depan. Namun, Anda bisa mengendalikan:
- Seberapa siap Anda secara materi.
- Seberapa kuat mental Anda menghadapi seleksi.
- Seberapa terarah strategi belajar Anda.
Berikut beberapa fokus belajar yang bisa Anda prioritaskan:
1. Kuasai konsep dasar pedagogik dan profesional
Dalam PPG, baik bagi Guru Tertentu maupun Prajabatan, dua ranah ini selalu menjadi tulang punggung:
- Pedagogik: memahami karakteristik peserta didik, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang aktif dan bermakna, asesmen, dan refleksi.
- Profesional: penguasaan materi sesuai bidang studi, kemampuan mengaitkan konsep, serta penerapan dalam konteks nyata di kelas.
Alih-alih terlalu sibuk memikirkan apakah ppg akan dihapus 2026, gunakan waktu Anda untuk:
- Membaca ulang buku-buku dasar pedagogik.
- Mengikuti pelatihan atau webinar yang relevan.
- Berlatih mengerjakan soal-soal yang mirip dengan pola soal PPG.
2. Latih kemampuan menjawab studi kasus pembelajaran
Tren seleksi guru, baik PPG maupun PPPK, semakin menekankan kemampuan berpikir kritis dan reflektif melalui soal studi kasus. Misalnya:
- Bagaimana Anda menangani siswa yang pasif?
- Apa yang Anda lakukan jika hasil asesmen diagnostik menunjukkan banyak siswa belum menguasai prasyarat?
- Bagaimana Anda merancang pembelajaran berdiferensiasi di kelas yang heterogen?
Untuk melatih ini, Anda bisa:
- Menulis refleksi singkat setelah mengajar: apa yang berhasil, apa yang tidak, dan apa rencana perbaikannya.
- Berdiskusi dengan rekan guru tentang kasus nyata di kelas.
- Mengikuti bimbingan belajar yang menyediakan latihan soal studi kasus dan pembahasannya.
3. Biasakan diri dengan istilah dan konsep Kurikulum Merdeka
PPG dan seleksi PPPK kini sangat erat dengan Kurikulum Merdeka. Jadi, penting bagi Anda untuk memahami:
- Capaian Pembelajaran (CP).
- Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
- Pembelajaran berdiferensiasi.
- Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Dengan memahami ini, Anda tidak hanya siap untuk PPG, tetapi juga bisa langsung menerapkannya di kelas. Ini akan membuat Anda lebih percaya diri, sekaligus menunjukkan bahwa Anda adalah guru yang relevan dengan kebijakan pendidikan terkini.
Di tengah semua ini, jika Anda merasa butuh panduan yang lebih terstruktur, mengikuti bimbingan belajar online PPG yang menyediakan kelas live, rekaman, dan latihan soal terarah bisa menjadi investasi yang sangat membantu, terutama untuk menghemat waktu dan menghindari belajar yang “asal banyak tapi tidak fokus”.
Baca Juga : Pendidikan Inklusif sebagai Kunci Sekolah yang Merangkul Semua
Menyaring Informasi: Bedakan Fakta Resmi dan Hoaks Pendidikan
Satu pelajaran besar dari munculnya isu apakah ppg akan dihapus 2026 adalah pentingnya literasi informasi, terutama bagi guru. Anda bukan hanya konsumen informasi, tetapi juga pendidik yang akan menjadi rujukan murid dan orang tua.
Agar tidak mudah terombang-ambing oleh kabar yang belum jelas, Anda bisa menerapkan beberapa langkah sederhana:
1. Cek sumber utama
Jika ada kabar besar seperti “PPG dihapus”, “PPPK dihentikan”, atau “sertifikasi tidak berlaku lagi”, langkah pertama adalah mengecek:
- Apakah ada pernyataan resmi dari Kemendikdasmen atau kementerian terkait?
- Apakah media besar dan kredibel memberitakan hal yang sama?
Dalam kasus apakah ppg akan dihapus 2026, media nasional yang mengutip langsung pejabat Kemendikdasmen justru menyatakan sebaliknya: program PPG bagi Guru Tertentu tidak dihentikan.
2. Waspadai potongan video tanpa konteks
Video pendek di media sosial sering kali hanya menampilkan sebagian kecil dari pembicaraan yang panjang. Tanpa konteks, pernyataan apa pun bisa terdengar dramatis atau menyesatkan. Jika Anda menemukan video seperti itu:
- Cari versi lengkapnya (jika ada).
- Bandingkan dengan informasi dari sumber resmi.
3. Jangan langsung menyebarkan sebelum yakin
Sebagai guru, apa yang Anda bagikan di grup WhatsApp sekolah atau komunitas guru punya pengaruh besar. Sebelum meneruskan kabar tentang apakah ppg akan dihapus 2026 atau isu lain, tanyakan pada diri sendiri:
- Apakah saya sudah mengecek kebenarannya?
- Apakah kabar ini akan membantu atau justru membuat orang lain panik?
4. Bangun kebiasaan merujuk ke kanal resmi
Biasakan untuk:
- Mengikuti kanal resmi Kemendikdasmen.
- Membaca berita dari media yang kredibel.
- Mengikuti sosialisasi resmi dari dinas pendidikan atau LPMP di daerah Anda.
Dengan cara ini, Anda tidak hanya melindungi diri sendiri dari hoaks, tetapi juga membantu menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat di kalangan guru.
Di tengah semua ketidakpastian, satu hal yang pasti adalah: perjuangan Anda sebagai guru honorer tidak pernah sia-sia. Isu apakah ppg akan dihapus 2026 memang sempat mengguncang, tetapi klarifikasi resmi Kemendikdasmen telah menegaskan bahwa PPG bagi Guru Tertentu tetap berjalan, seleksi tetap dibuka setiap tahun, dan program ini akan terus dilaksanakan hingga guru-guru sasaran tersertifikasi. Artinya, pintu kesempatan masih terbuka, dan Anda masih punya ruang untuk berjuang.
Sekarang, fokus terbaik Anda bukan lagi pada rasa takut terhadap isu, melainkan pada langkah konkret: mengatur waktu antara mengajar dan belajar, memperkuat kompetensi pedagogik dan profesional, membangun dukungan dengan sesama pejuang PPG, dan menyaring informasi agar tidak mudah goyah oleh kabar yang belum jelas. Sertifikat pendidik bukan sekadar syarat tunjangan atau PPPK; itu adalah pengakuan atas dedikasi Anda mendidik generasi penerus bangsa, sering kali dengan kondisi yang serba terbatas.
Teruslah melangkah, meski pelan. Setiap halaman yang Anda baca, setiap soal yang Anda kerjakan, setiap refleksi setelah mengajar adalah bagian dari perjalanan menuju kesejahteraan yang lebih layak dan pengakuan yang Anda pantas dapatkan. Jangan biarkan hoaks seperti apakah ppg akan dihapus 2026 memadamkan semangat Anda. Justru jadikan ini pengingat bahwa guru profesional bukan hanya yang lulus PPG, tetapi juga yang mampu tetap tenang, kritis, dan konsisten belajar di tengah badai informasi.
Anda tidak sendirian. Ada ribuan guru lain yang sedang berjalan di jalur yang sama. Dan selama Anda terus bergerak, kesempatan itu akan selalu ada di depan.
Sumber Referensi
- DETIK.COM – Ada Isu PPG bagi Guru Tertentu Dihentikan pada 2026, Kemendikdasmen: Tidak Benar
- ANTARANEWS.COM – Kemendikdasmen bantah isu PPG guru tertentu dihentikan pada 2026
- SEWAKTU.ID – Penghapusan Seleksi PPG 2026, Lulusan Pendidikan Langsung Jadi Guru Profesional
Program Value Jadi PPG
“Menjadi guru profesional bersama JadiPPG Join grup dan kegiatan update👇🏻”
📋 Cara Membeli dengan Mudah:
- Unduh Aplikasi JadiPPG: Temukan aplikasi JadiPPG di Play Store atau App Store, atau akses langsung melalui website.
- Masuk ke Akun Anda: Login ke akun JadiPPG Anda melalui aplikasi atau situs web.
- Pilih Paket yang Cocok: Dalam menu “Beli”, pilih paket bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Pastikan untuk melihat detail setiap paket.
- Gunakan Kode Promo: Masukkan kode “bimbelppg” untuk mendapat diskon spesial sesuai poster promo
- Gunakan Kode Afiliasi: Jika Anda memiliki kode “RES128”, masukkan untuk diskon tambahan.
- Selesaikan Pembayaran: Pilih metode pembayaran dan selesaikan transaksi dengan aman.
- Aktivasi Cepat: Paket Anda akan aktif dalam waktu singkat setelah pembayaran berhasil.
Ayoo Download Aplikasi JadiPPG karena banyak sekali yang bisa kamu dapatkan agar kalian CEPAT TERLATIH dengan Soal soal PPG 2024!!!
- Dapatkan ribuan soal PPG 2024 dengan pembahasan yang mudah dipahami, berupa video dan teks
- Live Class Gratis (Berlajar Bareng lewat Zoom)
- Materi-materi PPG 2024
- Ratusan Latsol PPG 2024
- Puluhan paket Simulasi PPG 2024
- dan masih banyak lagi yang lainnya

